Home / Berita Properti / Desain Coworking Space Aman Trik Bikin Nyaman Saat Pandemi
desain coworking space aman

Desain Coworking Space Aman Trik Bikin Nyaman Saat Pandemi

Berita Properti

Pandemi mengubah cara orang bekerja dan berkumpul, termasuk di ruang kerja bersama. Kini, desain coworking space aman menjadi fokus utama pemilik dan pengelola ruang kerja yang ingin tetap beroperasi tanpa mengorbankan kesehatan penggunanya. Bukan lagi sekadar tempat dengan interior Instagramable, coworking space dituntut untuk menghadirkan kombinasi antara keamanan, kenyamanan, dan produktivitas dalam satu ruang yang terukur.

Mengapa Desain Coworking Space Aman Jadi Kebutuhan Mendesak

Lonjakan pekerja remote dan freelancer membuat permintaan ruang kerja bersama tetap tinggi, meski pandemi memaksa banyak kantor tradisional sepi. Namun, kebutuhan ini datang dengan syarat baru: rasa aman. Desain coworking space aman tidak hanya bicara soal jarak antar meja, tetapi juga tentang bagaimana alur pergerakan orang, kualitas udara, hingga cara orang berinteraksi di dalam ruangan.

Banyak pekerja kini memilih coworking space sebagai alternatif rumah karena merasa lebih fokus dan profesional. Namun mereka hanya akan datang jika yakin bahwa protokol kesehatan tidak hanya tertulis di poster, tetapi benar benar “terwujud” dalam desain ruang. Di titik inilah desain interior dan arsitektur memainkan peran penting, menjadi garda terdepan pencegahan penularan.

Prinsip Dasar Desain Coworking Space Aman di Era Pandemi

Sebelum masuk ke detail teknis, ada beberapa prinsip dasar yang perlu dipegang ketika merancang desain coworking space aman. Prinsip ini menjadi fondasi setiap keputusan desain, mulai dari pemilihan material hingga pengaturan layout.

Zonasi Ruang sebagai Fondasi Desain Coworking Space Aman

Zonasi adalah langkah awal yang menentukan bagaimana aliran orang dan aktivitas di dalam coworking space. Dalam desain coworking space aman, zonasi tidak lagi hanya berdasarkan fungsi kerja, tetapi juga berdasarkan tingkat risiko interaksi.

Plus Minus Balkon dan Teras Rumah, Wajib Tahu!

Pertama, ruang dibagi menjadi zona aktivitas tinggi dan rendah. Area dengan mobilitas tinggi seperti resepsionis, pantry, dan koridor menuju toilet perlu dirancang lebih lega, dengan jalur sirkulasi yang jelas dan minim titik temu berdesakan. Area kerja fokus, ruang rapat kecil, dan bilik individu ditempatkan di zona yang lebih tenang dan terkontrol.

Kedua, pengelompokan pengguna menjadi pertimbangan. Meja untuk individu, tim kecil, dan tim besar sebaiknya dipisah jelas. Tim yang datang bersama bisa ditempatkan di cluster tersendiri sehingga interaksi mereka lebih banyak terjadi di dalam kelompok, bukan menyebar ke seluruh ruangan.

“Desain ruang kerja yang baik di masa pandemi adalah yang mampu mengarahkan perilaku tanpa banyak peraturan tertulis. Orang otomatis menjaga jarak karena ruangnya memang mengarahkan demikian.”

Jarak Fisik dan Tata Letak Meja yang Terukur

Salah satu elemen paling kasat mata dari desain coworking space aman adalah pengaturan jarak antar meja. Jarak minimal antar kursi idealnya 1,5 hingga 2 meter, dengan jalur sirkulasi yang tidak memaksa orang saling berpapasan terlalu dekat.

Meja kerja bisa diatur saling membelakangi untuk mengurangi kontak langsung tatap muka. Jika ruangan terbatas, partisi transparan setinggi dada hingga kepala bisa membantu memberikan penghalang droplet tanpa menghilangkan rasa lega secara visual. Pengelola juga dapat mengadopsi sistem “meja selang seling” di mana beberapa meja ditandai sebagai tidak boleh digunakan untuk menjaga jarak.

Prosedur Sertifikat Tanah Wakaf Lengkap, Jangan Salah Urus!

Ventilasi dan Kualitas Udara sebagai Prioritas

Desain coworking space aman tidak bisa dilepaskan dari isu kualitas udara. Ventilasi yang baik menjadi kunci, bukan hanya untuk kenyamanan termal, tetapi juga untuk mengurangi konsentrasi aerosol di udara.

Ruang dengan jendela besar yang bisa dibuka berkala jauh lebih disarankan dibanding ruang tertutup rapat tanpa sirkulasi alami. Jika menggunakan pendingin udara, sistem HVAC sebaiknya ditingkatkan filtrasinya, misalnya dengan filter HEPA atau peningkatan tingkat pertukaran udara per jam. Penempatan exhaust fan di titik tertentu dapat membantu menarik udara keluar dan mendorong sirkulasi lebih segar.

Strategi Interior untuk Desain Coworking Space Aman dan Nyaman

Setelah prinsip dasar ditetapkan, langkah berikutnya adalah menerjemahkannya ke dalam strategi interior yang konkret. Di sini, desain coworking space aman bertemu dengan estetika dan psikologi ruang.

Pemilihan Material yang Mendukung Kebersihan

Material permukaan menjadi faktor penting. Dalam desain coworking space aman, permukaan yang sering disentuh seperti gagang pintu, meja resepsionis, tombol lift, dan sakelar lampu sebaiknya menggunakan material yang mudah dibersihkan dan tahan disinfektan, misalnya HPL berkualitas, logam tertentu, atau cat dengan finishing khusus.

Lantai sebaiknya tidak terlalu bertekstur sehingga mudah dipel dan dibersihkan berkala. Karpet tebal yang sulit dibersihkan mendalam bisa dikurangi penggunaannya di area publik, diganti dengan karpet tile yang lebih mudah diganti per modul jika diperlukan.

Siapa Pengelola Tanah Wakaf? Ini Jawaban Lengkapnya

Warna, Pencahayaan, dan Psikologi Rasa Aman

Desain coworking space aman bukan berarti kaku dan klinis seperti rumah sakit. Warna hangat lembut, hijau, biru muda, atau netral yang menenangkan dapat membantu mengurangi kecemasan pengguna. Pencahayaan alami diperbanyak dengan bukaan jendela yang lebar, sementara lampu buatan diatur agar merata dan tidak menyilaukan.

Rasa aman juga dipengaruhi oleh seberapa jelas orang bisa melihat sekelilingnya. Ruang yang terlalu banyak sudut gelap atau tertutup bisa menimbulkan rasa tidak nyaman. Penggunaan partisi transparan atau semi transparan memberi pembatas fisik tanpa menciptakan kesan terisolasi.

“Keamanan di ruang kerja bukan hanya soal protokol medis, tetapi juga soal bagaimana ruang membuat orang merasa tenang, dihargai, dan tidak diawasi berlebihan.”

Penataan Furnitur Fleksibel namun Terkontrol

Furnitur yang fleksibel menjadi andalan coworking space, namun di masa pandemi, fleksibilitas perlu diimbangi dengan kontrol. Kursi dan meja lipat atau modular tetap bisa digunakan, tetapi dengan penandaan posisi yang jelas di lantai atau dinding agar jarak aman tetap terjaga.

Beberapa coworking space mulai menerapkan sistem reservasi meja tertentu, sehingga penataan furnitur bisa direncanakan harian. Area lounge dengan sofa panjang dapat dipecah menjadi beberapa kursi tunggal yang lebih mudah diatur ulang sesuai kebutuhan kapasitas dan aturan kesehatan terbaru.

Teknologi Pendukung dalam Desain Coworking Space Aman

Teknologi menjadi mitra strategis dalam menguatkan desain coworking space aman. Bukan sekadar gimmick, tetapi solusi konkret untuk mengurangi kontak fisik dan meningkatkan monitoring.

Sistem Akses Tanpa Sentuh dan Manajemen Pengunjung

Pintu masuk dengan sensor, kartu akses, atau aplikasi di ponsel mengurangi kebutuhan menyentuh gagang pintu. Di resepsionis, check in digital melalui QR code atau tablet yang dibersihkan rutin menggantikan buku tamu manual. Data pengunjung tersimpan rapi dan dapat membantu pelacakan jika sewaktu waktu diperlukan.

Di area pantry, dispenser air minum dengan pedal kaki atau sensor, keran otomatis, dan tempat sampah dengan pedal menjadi detail kecil yang mendukung desain coworking space aman. Semakin sedikit titik sentuh bersama, semakin kecil peluang penularan.

Monitoring Kepadatan dan Reservasi Ruang Kerja

Beberapa coworking space mengadopsi sistem reservasi online untuk meja dan ruang rapat. Pengguna bisa melihat kapasitas tersisa, memilih jam kedatangan, dan menghindari jam padat. Sensor sederhana atau kamera dengan analitik dapat membantu pengelola memantau jumlah orang di dalam ruangan secara real time.

Informasi ini bisa ditampilkan di layar dekat pintu masuk, sehingga pengguna tahu apakah ruang sedang mendekati kapasitas maksimum. Transparansi seperti ini menambah kepercayaan dan mendukung citra bahwa desain coworking space aman benar benar diterapkan, bukan sekadar slogan.

Perilaku Pengguna dan Aturan yang Diwadahi oleh Desain

Desain sebaik apapun tidak akan efektif tanpa perilaku pengguna yang selaras. Namun, desain yang cerdas dapat mendorong kebiasaan baik tanpa terasa memaksa.

Alur Sirkulasi Satu Arah dan Titik Tunggu

Penerapan jalur satu arah di koridor sempit membantu mengurangi tatap muka dekat. Panah di lantai, tanda di dinding, dan penempatan pintu masuk serta keluar yang terpisah dapat mengarahkan pergerakan orang. Di depan lift atau toilet, area tunggu diberi tanda jarak berdiri sehingga antrian tetap rapi dan aman.

Desain coworking space aman juga bisa memasukkan konsep “buffer zone” di dekat pintu masuk, di mana pengguna bisa membersihkan tangan, mengganti masker, atau menyimpan barang sebelum benar benar masuk ke area kerja utama.

Komunikasi Visual yang Konsisten dan Tidak Mengintimidasi

Poster, stiker, dan signage menjadi bagian dari desain yang tidak boleh diabaikan. Pesan tentang menjaga jarak, mencuci tangan, dan etika batuk bersin bisa dikemas dengan visual yang ramah, bukan menakut nakuti. Warna dan tipografi diselaraskan dengan identitas visual coworking space agar tidak terasa seperti tempelan darurat.

Di sinilah keseimbangan perlu dijaga. Terlalu banyak tanda bisa membuat ruang terasa penuh aturan, tetapi terlalu sedikit membuat orang lupa. Desain coworking space aman yang efektif akan menempatkan pesan di titik titik strategis, misalnya dekat wastafel, pintu masuk, dan area duduk bersama.

Menjaga Kenyamanan Sosial di Tengah Batas Fisik

Coworking space pada dasarnya dibangun untuk kolaborasi dan jejaring. Tantangan terbesar di masa pandemi adalah bagaimana menjaga ruh sosial ini tanpa mengabaikan keselamatan.

Ruang Kolaborasi yang Lebih Terbuka dan Terukur

Ruang rapat tertutup kecil dengan kapasitas banyak orang kini perlu dievaluasi. Desain coworking space aman mengarahkan kolaborasi ke ruang yang lebih terbuka, dengan ventilasi baik dan kapasitas yang disesuaikan. Meja rapat panjang bisa diisi lebih sedikit orang, sementara peserta lain bergabung melalui konferensi video dari bilik masing masing.

Acara komunitas seperti workshop atau diskusi bisa tetap berlangsung dalam format hybrid, dengan peserta terbatas di ruang fisik dan sisanya mengikuti secara daring. Desain ruang yang mendukung perangkat audio visual menjadi penting, termasuk penempatan layar, speaker, dan titik listrik yang memadai.

Sudut Tenang untuk Kerja Individu yang Lebih Terlindungi

Bagi banyak orang, kebutuhan utama adalah ruang tenang untuk fokus. Bilik kerja individu dengan partisi cukup tinggi, kursi nyaman, dan pencahayaan baik menjadi salah satu elemen kunci desain coworking space aman. Di bilik ini, orang merasa lebih terlindungi dari lalu lalang dan bisa bekerja tanpa cemas.

Penempatan bilik bisa di sisi ruangan, menjauh dari jalur utama, sehingga arus orang tidak terlalu dekat. Pengaturan waktu pemakaian dan jeda antar pengguna memberi kesempatan untuk pembersihan singkat sebelum bilik dipakai orang berikutnya.

Dengan memadukan prinsip jarak aman, kualitas udara, material higienis, teknologi pendukung, dan desain interior yang manusiawi, desain coworking space aman bukan lagi sekadar respon darurat, tetapi menjadi standar baru ruang kerja bersama di era yang penuh kewaspadaan ini.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *