Home / Berita Properti / Penguatan literasi keagamaan lintas budaya dukung bangsa inklusif
literasi keagamaan lintas budaya

Penguatan literasi keagamaan lintas budaya dukung bangsa inklusif

Berita Properti

Di tengah menguatnya arus informasi dan perjumpaan antarbudaya, istilah literasi keagamaan lintas budaya makin sering terdengar, tetapi belum tentu dipahami secara utuh. Di Indonesia yang berlapis suku, agama, dan tradisi, kemampuan memahami ajaran agama sendiri sekaligus menghargai keyakinan orang lain menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar slogan toleransi. Literasi ini bukan hanya soal tahu ajaran kitab suci, melainkan juga kecakapan membaca realitas sosial, sejarah, dan budaya yang melingkupi praktik keagamaan di ruang publik.

Mengurai Arti Literasi Keagamaan Lintas Budaya di Indonesia

Pembahasan tentang literasi keagamaan lintas budaya tidak bisa dilepaskan dari pengalaman Indonesia sebagai negara majemuk. Literasi di sini berarti kemampuan memahami, menafsirkan, dan menggunakan informasi keagamaan secara kritis dan bertanggung jawab, sementara lintas budaya menandai perjumpaan dengan nilai, tradisi, dan simbol yang berbeda dari milik sendiri. Keduanya berpadu menjadi kompetensi sosial yang menentukan cara warga berinteraksi dalam masyarakat yang beragam.

Dalam konteks Indonesia, literasi keagamaan tidak cukup berhenti pada penguasaan teks keagamaan. Ia harus diiringi pemahaman bahwa ajaran agama selalu beroperasi di tengah budaya yang dinamis. Cara umat menjalankan ibadah, merayakan hari besar, hingga mengekspresikan identitas keagamaan di ruang publik sangat dipengaruhi oleh sejarah lokal, kebijakan negara, dan interaksi dengan komunitas lain. Di titik inilah dimensi lintas budaya menjadi penting untuk dipahami secara sadar.

“Semakin tinggi pengetahuan agama tanpa kepekaan lintas budaya, semakin besar risiko agama dijadikan tembok, bukan jembatan.”

Mengapa Literasi Keagamaan Lintas Budaya Menjadi Mendesak

Kebutuhan akan literasi keagamaan lintas budaya mengemuka seiring meningkatnya gesekan sosial yang berkelindan dengan isu identitas. Di ruang digital, misinformasi seputar ajaran dan praktik keagamaan mudah menyebar, sering kali dilekatkan pada stereotip etnis atau budaya tertentu. Tanpa kecakapan memilah informasi dan memahami latar belakang budaya sebuah praktik keagamaan, prasangka cepat mengeras menjadi kebencian.

Biaya Pembangunan SMA Unggul Garuda Bengkak hingga Rp200 M, Ada Apa?

Di banyak daerah, perbedaan tata cara ibadah, penggunaan simbol, hingga pilihan pakaian keagamaan kerap menjadi sumber salah paham. Padahal, perbedaan itu sering kali lahir dari sejarah panjang perjumpaan agama dengan budaya lokal. Literasi keagamaan yang berpijak pada pemahaman lintas budaya membantu warga melihat perbedaan sebagai variasi ekspresi iman, bukan penyimpangan yang harus dicurigai.

Pendidikan dan Sekolah sebagai Ruang Pembibitan Literasi Keagamaan Lintas Budaya

Sekolah memegang peran penting dalam menanamkan literasi keagamaan lintas budaya sejak dini. Kurikulum pendidikan agama yang selama ini cenderung fokus pada pendalaman doktrin perlu diperkaya dengan materi tentang perjumpaan antaragama dan antarbudaya. Bukan untuk mencampuradukkan ajaran, melainkan untuk melatih empati dan kemampuan melihat diri sendiri dari kacamata orang lain.

Guru agama dan guru mata pelajaran lain bisa menjadi fasilitator perjumpaan yang sehat. Misalnya dengan mengajak siswa mengamati tradisi keagamaan yang hidup di lingkungan sekitar, lalu mendiskusikan latar belakang sejarah dan budayanya. Kegiatan lintas kelas dan lintas sekolah yang mempertemukan siswa dari latar belakang agama berbeda juga dapat menjadi wahana belajar langsung tentang keragaman.

Di sisi lain, kebijakan sekolah perlu memastikan bahwa ruang ekspresi keagamaan tidak menciptakan tembok pemisah antar siswa. Penataan kegiatan keagamaan, pengelolaan hari besar, hingga penggunaan simbol keagamaan di lingkungan sekolah dapat menjadi contoh konkret bagaimana literasi keagamaan yang peka budaya diterapkan dalam keseharian.

Peran Keluarga dan Komunitas dalam Menumbuhkan Sikap Inklusif

Di luar sekolah, keluarga dan komunitas menjadi arena pertama dan utama tempat anak belajar memandang perbedaan. Cara orang tua bercerita tentang tetangga yang berbeda agama, cara tokoh masyarakat menanggapi perayaan hari besar agama lain, hingga cara pemimpin komunitas menengahi konflik kecil di lingkungan akan membentuk pola pikir generasi muda terhadap keragaman.

Kemendiktisaintek pacu pembangunan SMA Unggul Garuda Baru selesai Juni 2026

Literasi keagamaan lintas budaya dalam keluarga dapat dimulai dari hal sederhana. Misalnya menjelaskan kepada anak mengapa tetangga merayakan hari besar tertentu, mengapa ada tradisi tertentu yang berbeda dengan tradisi keluarga sendiri, dan mengapa perbedaan itu layak dihormati. Sikap terbuka untuk berdialog dengan tetangga lintas agama juga memberi contoh nyata bahwa keyakinan yang kuat tidak harus berujung pada pengucilan pihak lain.

Komunitas keagamaan pun memiliki peran strategis. Pengajian, katekese, sekolah minggu, atau majelis taklim dapat menjadi ruang untuk mengajarkan ajaran agama yang menekankan penghormatan terhadap martabat manusia. Di saat yang sama, komunitas perlu waspada terhadap materi ceramah yang menumbuhkan kebencian berbasis identitas. Di sini, literasi keagamaan yang kuat akan membantu jamaah membedakan antara kritik terhadap perilaku individu dengan generalisasi negatif terhadap kelompok agama lain.

Media Sosial, Ruang Digital, dan Tantangan Baru Literasi Keagamaan Lintas Budaya

Perkembangan teknologi informasi menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi penguatan literasi keagamaan lintas budaya. Di satu sisi, akses terhadap ceramah, diskusi, dan referensi keagamaan lintas negara dan budaya terbuka lebar. Di sisi lain, ruang digital juga dipenuhi konten yang memelintir ajaran agama untuk membenarkan sikap intoleran dan diskriminatif.

Pengguna internet dituntut memiliki kemampuan literasi keagamaan yang lebih tajam. Tidak semua konten keagamaan di media sosial lahir dari otoritas yang kredibel atau berlandaskan pemahaman mendalam terhadap tradisi dan budaya. Penyebaran potongan video ceramah tanpa konteks, misalnya, sering memicu salah tafsir dan kemarahan massal, terutama ketika menyangkut simbol atau praktik keagamaan kelompok lain.

“Di era media sosial, kecepatan jempol sering kali mengalahkan kedalaman nalar. Di sinilah literasi keagamaan lintas budaya diuji sekaligus dibutuhkan.”

Rumah Subsidi Cileungsi 2026 Mulai Rp141 Juta, Buruan!

Di tengah situasi ini, lembaga keagamaan dan tokoh publik dapat memanfaatkan ruang digital untuk memproduksi konten yang mendorong dialog, menjelaskan isu sensitif dengan bahasa yang jernih, dan mengajak publik berpikir kritis. Pelatihan literasi digital dengan fokus pada isu keagamaan dan budaya juga menjadi kebutuhan, terutama bagi generasi muda yang sangat aktif di dunia maya.

Literasi Keagamaan Lintas Budaya dalam Kebijakan dan Ruang Publik

Selain di tingkat individu dan komunitas, literasi keagamaan lintas budaya perlu tercermin dalam kebijakan publik dan tata kelola ruang bersama. Pemerintah daerah, misalnya, menghadapi berbagai persoalan yang berkaitan dengan perizinan rumah ibadah, pengaturan perayaan hari besar, dan penanganan konflik bernuansa keagamaan. Tanpa pemahaman yang memadai terhadap keragaman tradisi dan kebutuhan spiritual warga, kebijakan bisa berujung pada ketidakadilan.

Aparat penegak hukum, birokrat, hingga perangkat desa perlu dibekali pelatihan yang menyentuh aspek literasi keagamaan dan kepekaan budaya. Pemahaman terhadap sejarah lokal, komposisi demografis, dan dinamika hubungan antar komunitas akan membantu mereka mengambil keputusan yang tidak hanya legal secara formal, tetapi juga adil secara sosial.

Ruang publik seperti taman kota, balai warga, dan fasilitas umum lainnya dapat dirancang sebagai tempat perjumpaan warga dari berbagai latar belakang. Kegiatan lintas agama dan lintas budaya yang diselenggarakan di ruang publik memberi pesan kuat bahwa keragaman bukan ancaman, melainkan bagian sah dari kehidupan bersama. Desain kebijakan yang mendorong pertemuan semacam ini akan memperkuat budaya inklusif yang berpijak pada literasi keagamaan yang matang.

Menjaga Ruang Dialog dan Mencegah Polarisasi Identitas

Salah satu tantangan terbesar dalam penguatan literasi keagamaan lintas budaya adalah kecenderungan polarisasi identitas. Di banyak tempat, identitas agama dan budaya dimobilisasi untuk kepentingan politik jangka pendek. Narasi kami versus mereka mudah menyebar ketika warga kurang memiliki kemampuan untuk memeriksa ulang informasi dan memahami kompleksitas persoalan di balik isu keagamaan.

Ruang dialog yang aman dan setara menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Dialog antaragama dan antarbudaya sering kali dipahami sebagai agenda seremonial yang hanya melibatkan tokoh elite. Padahal, dialog sejati justru perlu hadir di level akar rumput, di mana warga saling berjumpa dalam keseharian. Forum warga, kelompok hobi, komunitas seni, hingga koperasi bisa menjadi wadah pertemuan lintas identitas yang alami.

Literasi keagamaan lintas budaya membantu warga memasuki dialog dengan sikap terbuka tanpa harus meninggalkan keyakinan masing masing. Dengan memahami bahwa setiap agama memiliki tradisi, simbol, dan bahasa teologis yang khas, peserta dialog dapat menghindari jebakan saling menghakimi. Sebaliknya, mereka bisa mencari titik temu dalam nilai kemanusiaan dan keadilan yang diajarkan oleh berbagai agama.

Menggagas Gerakan Kolektif Menuju Bangsa yang Lebih Inklusif

Penguatan literasi keagamaan lintas budaya pada akhirnya menuntut kerja bersama berbagai pihak. Dunia pendidikan, komunitas keagamaan, media, pemerintah, dan masyarakat sipil memiliki peran yang saling melengkapi. Tanpa kolaborasi, upaya ini akan terfragmentasi dan mudah melemah ketika berhadapan dengan arus intoleransi yang terorganisir.

Gerakan kolektif dapat dimulai dari pemetaan kebutuhan di tingkat lokal. Setiap daerah memiliki sejarah dan dinamika keragaman yang berbeda, sehingga pendekatan yang dibutuhkan pun tidak bisa diseragamkan. Di satu wilayah, mungkin diperlukan penguatan dialog antar pemuda lintas agama. Di wilayah lain, fokus bisa pada pelatihan bagi tokoh masyarakat atau pengembangan kurikulum lokal yang menonjolkan sejarah kerukunan.

Pengalaman panjang Indonesia dalam merawat keragaman sebenarnya menyediakan banyak contoh baik yang dapat diangkat kembali. Tradisi gotong royong, musyawarah, dan solidaritas lintas komunitas saat menghadapi bencana menunjukkan bahwa di tingkat akar rumput, warga mampu melampaui sekat identitas ketika berhadapan dengan persoalan bersama. Literasi keagamaan lintas budaya dapat menjadi fondasi konseptual yang memperkuat praktik baik tersebut, sehingga tidak mudah digoyahkan oleh provokasi dan ujaran kebencian.

Dengan menempatkan literasi keagamaan lintas budaya sebagai bagian penting dari pendidikan warga negara, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat karakter bangsa yang inklusif. Bukan hanya sebagai jargon, tetapi sebagai cara hidup yang tercermin dalam kebijakan, perilaku sehari hari, dan cara masyarakat memaknai perbedaan di tengah kehidupan bersama.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *