Nagara Rimba Nusa mulai sering disebut dalam diskusi tata kota Indonesia, terutama sejak isu krisis iklim, banjir, dan kualitas udara kian mengemuka. Konsep ini bukan sekadar ruang terbuka hijau biasa, melainkan gagasan menyatukan hutan, air, dan ruang hidup manusia dalam satu lanskap yang saling menguatkan. Di tengah kota yang terus mengeras oleh beton dan aspal, Nagara Rimba Nusa hadir sebagai tawaran untuk mengembalikan napas alam tanpa mematikan dinamika urban.
Mengapa Nagara Rimba Nusa Mulai Jadi Perbincangan Serius
Di banyak kota besar Indonesia, ruang hijau dan biru mengecil drastis. Sungai disempitkan, rawa dikeringkan, hutan kota digerus. Nagara Rimba Nusa muncul sebagai konsep tandingan yang menempatkan kembali alam sebagai struktur utama kota, bukan sekadar pelengkap estetika.
Konsep ini menggabungkan tiga elemen kunci yaitu nagara sebagai ruang hidup dan aktivitas manusia, rimba sebagai representasi hutan dan vegetasi lebat, serta nusa sebagai elemen air seperti sungai, danau, pesisir, dan kawasan basah. Dengan menyatukan ketiganya dalam satu rencana tata ruang, kota diharapkan mampu lebih tahan terhadap banjir, gelombang panas, dan polusi.
Jika selama ini kota dibangun dengan logika mengusir air dan menyingkirkan pohon, Nagara Rimba Nusa justru mengundang keduanya kembali untuk menjadi sekutu.
Pendekatan ini sejalan dengan tren global nature based solutions, tetapi memiliki warna lokal yang kuat karena menautkan budaya nusantara, lanskap tropis, dan karakter kepulauan Indonesia.
Memahami Inti Gagasan Nagara Rimba Nusa
Sebelum melihat implementasinya, penting memahami apa yang membuat Nagara Rimba Nusa berbeda dari sekadar ruang terbuka hijau. Intinya terletak pada cara melihat kota dan alam sebagai satu kesatuan ekosistem.
Nagara Rimba Nusa Sebagai Kerangka Kota yang Hidup
Dalam banyak dokumen perencanaan, Nagara Rimba Nusa dijelaskan sebagai kerangka lanskap yang menuntun arah pembangunan kota. Bukan lagi jalan raya dan gedung sebagai tulang punggung, melainkan koridor hijau biru yang menyusun struktur dasar.
Pada tataran nagara, kota dirancang tidak memunggungi sungai atau kawasan hijau. Permukiman, perkantoran, dan fasilitas umum diarahkan untuk menyatu dengan taman kota, hutan kota, dan tepian air. Aktivitas masyarakat diupayakan dekat dengan ruang hijau biru sehingga interaksi manusia dan alam menjadi bagian dari keseharian, bukan rekreasi sesekali.
Pada tataran rimba, vegetasi tidak hanya dimaknai sebagai pepohonan peneduh, tetapi sebagai sistem ekologis lengkap. Ada lapisan pohon tinggi, semak, tumbuhan bawah, dan habitat satwa yang dibiarkan hidup. Hutan kota, sabuk hijau, dan taman ekologis menjadi penghubung antar kawasan, membentuk jejaring yang memungkinkan udara bersirkulasi, air meresap, dan keanekaragaman hayati bertahan.
Pada tataran nusa, air diperlakukan sebagai unsur utama. Sungai tidak lagi dipersempit dan disemen penuh, melainkan dipulihkan bantaran alaminya. Danau dan rawa dijaga sebagai penampung air dan pengendali banjir. Di wilayah pesisir, jalur mangrove dan sabuk pantai hijau menjadi bagian dari perlindungan alami terhadap abrasi dan kenaikan muka laut.
Dengan cara ini, Nagara Rimba Nusa bukan hanya slogan, melainkan kerangka berpikir yang mengubah cara kota dibangun, tumbuh, dan beradaptasi.
Ruang Hijau Biru yang Tidak Sekadar Taman Kota
Ruang hijau biru sering dipersempit maknanya menjadi taman dan danau buatan. Dalam konsep Nagara Rimba Nusa, ruang hijau biru jauh lebih kompleks dan fungsional.
Jaringan Hijau Biru Nagara Rimba Nusa di Dalam Kota
Nagara Rimba Nusa mendorong pembentukan jaringan hijau biru yang saling terhubung. Artinya, taman kota tidak berdiri sendiri, tetapi tersambung dengan hutan kota, jalur hijau di tepi sungai, dan ruang terbuka di permukiman.
Di tingkat mikro, halaman rumah, taman lingkungan, dan atap hijau ikut diperhitungkan. Di tingkat menengah, terdapat sabuk hijau di sepanjang jalan utama, jalur pedestrian rindang, dan taman lingkungan yang berfungsi sebagai ruang berkumpul sekaligus resapan air. Di tingkat makro, hutan kota, kawasan lindung, dan lahan basah menjadi inti ekosistem.
Nagara Rimba Nusa menempatkan air sebagai pengikat. Saluran air tidak hanya dibuat tertutup, melainkan dikembalikan sebagai kanal terbuka yang vegetasinya terkelola. Kolam retensi, danau buatan, dan rawa buatan ditata tidak hanya sebagai infrastruktur teknis, tetapi juga ruang publik yang bisa dinikmati warga.
Dalam kondisi ekstrem seperti hujan lebat, jaringan hijau biru ini bekerja sebagai spons raksasa. Air tertahan di hutan kota, disebar melalui saluran terbuka, ditampung di danau dan kolam, lalu perlahan meresap. Dengan cara ini, banjir tidak serta merta hilang, tetapi intensitas dan sebarannya dapat ditekan.
Kearifan Lokal dan Jejak Nusantara dalam Nagara Rimba Nusa
Indonesia memiliki tradisi panjang hidup berdampingan dengan alam. Nagara Rimba Nusa mencoba menghidupkan kembali kearifan ini dalam format kota modern.
Di banyak kampung tradisional, posisi rumah, kebun, dan sumber air diatur sedemikian rupa untuk menjaga keseimbangan. Ada zona untuk permukiman, zona untuk hutan, dan zona untuk sawah atau kebun. Pola ini tercermin dalam konsep nagara sebagai ruang sosial, rimba sebagai ruang ekologis, dan nusa sebagai ruang air.
Di wilayah pesisir, masyarakat terbiasa memanfaatkan mangrove sebagai pelindung alami. Di dataran tinggi, hutan larangan dijaga sebagai penyangga mata air. Nagara Rimba Nusa menyerap pola pikir ini lalu menerjemahkannya dalam bahasa tata ruang modern, dengan peta, zonasi, dan regulasi.
Kelebihannya, konsep ini tidak hanya berbicara teknis, tetapi juga identitas. Kota yang menerapkan Nagara Rimba Nusa tidak sekadar lebih hijau dan lebih biru, tetapi juga lebih dekat dengan akar budaya nusantara yang menghormati alam sebagai bagian dari kehidupan, bukan objek eksploitasi.
Infrastruktur Kota yang Berpihak pada Nagara Rimba Nusa
Ketika konsep Nagara Rimba Nusa diterapkan, infrastruktur kota ikut berubah. Jalan, jembatan, drainase, dan bangunan harus menyesuaikan diri dengan struktur hijau biru yang menjadi prioritas.
Sistem drainase misalnya, tidak lagi hanya mengandalkan saluran beton. Diterapkan pendekatan drainase berwawasan lingkungan, di mana air hujan diupayakan meresap di tempatnya jatuh melalui sumur resapan, taman resapan, dan jalur hijau yang tidak tertutup perkerasan keras. Saluran air dibuka, diberi vegetasi tepi, dan disambungkan dengan kolam retensi.
Bangunan publik didorong memiliki atap hijau, dinding hijau, dan halaman yang cukup luas untuk vegetasi. Di kawasan permukiman padat, ruang hijau vertikal dan taman komunitas dioptimalkan. Ruang terbuka di bawah jembatan, bantaran sungai, dan lahan sisa dikonversi menjadi ruang hijau biru yang fungsional.
Transportasi pun diarahkan untuk lebih ramah lingkungan. Jalur pejalan kaki dan pesepeda dibayangi pohon rindang, halte angkutan umum ditempatkan dekat taman dan ruang terbuka, sehingga perjalanan sehari hari warga selalu bersentuhan dengan elemen Nagara Rimba Nusa.
Nagara Rimba Nusa dan Ketahanan Kota terhadap Krisis Iklim
Krisis iklim menjadikan kota rentan terhadap berbagai bencana. Kenaikan suhu, banjir bandang, kekeringan, dan penurunan kualitas udara menjadi ancaman nyata. Nagara Rimba Nusa menawarkan salah satu jawaban melalui penguatan kapasitas alamiah kota.
Ruang hijau lebat menurunkan suhu lokal melalui bayangan dan proses evapotranspirasi. Ruang biru menstabilkan suhu dan kelembapan udara. Kombinasi keduanya menciptakan iklim mikro yang lebih nyaman dibandingkan kawasan yang didominasi beton.
Dalam konteks banjir, Nagara Rimba Nusa mengandalkan prinsip menahan, menampung, dan mengalirkan air secara bertahap. Hutan kota dan kawasan lindung menahan aliran permukaan. Danau dan kolam menampung limpasan. Sungai dan kanal yang dipulihkan mengalirkan air dengan lebih stabil. Dengan cara ini, kota tidak lagi hanya bergantung pada pompa dan tanggul.
Di sisi lain, vegetasi berperan menyaring polusi udara, menjerat debu, dan menyerap sebagian gas rumah kaca. Kualitas udara membaik, kesehatan masyarakat terbantu. Kota tidak hanya bertahan, tetapi juga membangun kualitas hidup yang lebih layak.
Konsep seperti Nagara Rimba Nusa seharusnya tidak lagi dipandang sebagai pilihan tambahan, melainkan fondasi wajib bagi kota yang ingin tetap layak huni di tengah krisis iklim.
Implementasi dan Tantangan Nagara Rimba Nusa di Lapangan
Mewujudkan Nagara Rimba Nusa bukan pekerjaan sehari dua hari. Diperlukan perubahan cara pandang, regulasi, dan investasi yang konsisten. Di sinilah tantangan terbesar muncul.
Pertama, persoalan lahan. Di banyak kota, lahan kosong sudah telanjur habis terfragmentasi menjadi kavling kecil. Mengembalikan ruang hijau biru berarti perlu konsolidasi, pembebasan, atau penataan ulang yang seringkali berhadapan dengan kepentingan ekonomi jangka pendek.
Kedua, koordinasi antar lembaga. Konsep Nagara Rimba Nusa menyentuh banyak sektor mulai dari pekerjaan umum, lingkungan hidup, perumahan, hingga transportasi. Tanpa koordinasi kuat, ruang hijau biru bisa terpotong oleh proyek infrastruktur yang tidak sinkron.
Ketiga, konsistensi regulasi. Peraturan tata ruang seringkali longgar dalam implementasi. Alih fungsi ruang hijau menjadi kawasan terbangun masih terjadi. Untuk menjaga Nagara Rimba Nusa, diperlukan pengawasan ketat dan komitmen politik yang jelas.
Namun di balik tantangan, ada juga peluang. Banyak kota mulai menyadari bahwa biaya penanganan banjir, polusi, dan krisis air jauh lebih besar dibandingkan investasi pada ruang hijau biru. Konsep Nagara Rimba Nusa menawarkan kerangka yang sistematis untuk mengarahkan investasi tersebut agar lebih tepat sasaran.
Peran Warga dalam Menjaga Roh Nagara Rimba Nusa
Konsep sekuat apa pun akan rapuh jika tidak didukung perilaku warga. Nagara Rimba Nusa membutuhkan partisipasi aktif masyarakat dalam merawat ruang hijau biru di sekitar mereka.
Warga dapat berperan melalui hal sederhana seperti menjaga kebersihan sungai dan saluran air, menanam pohon di halaman, tidak menutup seluruh lahan dengan perkerasan, dan memanfaatkan transportasi ramah lingkungan. Komunitas bisa mengelola taman lingkungan, kebun kota, dan ruang terbuka sebagai ruang bersama yang hidup.
Sekolah dan kampus dapat menjadi laboratorium kecil Nagara Rimba Nusa dengan mengembangkan taman belajar, kebun edukasi, dan program pengelolaan air hujan. Dunia usaha bisa berkontribusi melalui gedung hijau dan program tanggung jawab sosial yang fokus pada pemulihan ruang hijau biru.
Pada akhirnya, Nagara Rimba Nusa bukan hanya soal desain kota di atas kertas. Ia adalah soal cara hidup, cara memandang alam, dan cara kita memutuskan seperti apa kota yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.



Comment